Masalah sampah di Indonesia kini memasuki tahap yang cukup mengkhawatirkan. Tumpukan limbah terus bertambah dari hari ke hari, sementara sistem pengelolaannya belum sepenuhnya berjalan optimal di banyak daerah.
Data terbaru hingga Januari 2026 menunjukkan bahwa 336 kabupaten dan kota di Indonesia, atau sekitar 65,4 persen wilayah, masuk dalam kategori status darurat sampah. Kondisi ini menandakan bahwa persoalan sampah bukan lagi sekadar isu lingkungan biasa, melainkan sudah menjadi krisis yang membutuhkan solusi serius.
| Foto: Nathea Citra/detikBali |
Ada beberapa faktor utama yang membuat situasi ini semakin rumit. Salah satunya adalah keterbatasan lahan untuk Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Banyak daerah mulai kesulitan menampung sampah karena kapasitas TPA yang semakin penuh.
Selain itu, volume sampah yang terus meningkat juga memperparah situasi. Pertumbuhan jumlah penduduk dan pola konsumsi masyarakat yang semakin tinggi membuat produksi sampah meningkat secara signifikan setiap tahun.
Namun ada satu faktor lain yang sering luput dari perhatian, yakni minimnya proses pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Padahal, pemilahan sejak awal sangat penting agar sampah bisa dikelola dengan lebih efektif.
Inovasi dari UGM untuk Mengatasi Masalah Sampah
Melihat kondisi tersebut, Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Luluk Lusiantoro, mencoba mencari solusi untuk mengatasi persoalan tersebut.
Bersama tim peneliti dari FEB UGM, ia mengembangkan sebuah aplikasi pengelolaan sampah berbasis Artificial Intelligence (AI). Aplikasi ini diberi nama Westa.
Westa dirancang untuk membantu proses identifikasi sampah agar menjadi lebih cepat, praktis, dan berbasis teknologi.
Menurut Luluk, selama ini proses pengenalan jenis sampah masih banyak dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul atau pengepul sampah. Proses tersebut tidak mudah dan tidak semua orang bersedia melakukannya.
Ia menilai teknologi bisa membantu menyederhanakan proses tersebut sehingga pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan lebih efisien.
Cara Kerja Aplikasi Westa
Aplikasi Westa nantinya akan diinstal di ponsel pintar milik pengguna. Cara penggunaannya cukup sederhana.
Pengguna hanya perlu memotret sampah menggunakan kamera ponsel. Setelah gambar diambil, sistem AI di dalam aplikasi akan langsung bekerja untuk mengenali jenis sampah tersebut.
Tak hanya itu, aplikasi juga mampu mengestimasi berat sampah secara otomatis.
Informasi mengenai berat sampah ini memiliki fungsi penting. Data tersebut digunakan untuk menghitung emisi karbon yang dihasilkan dari limbah tersebut.
Dalam pengembangan sistemnya, tim peneliti menggunakan emission factor dari Environmental Protection Agency sebagai acuan untuk menghitung emisi karbon yang dihasilkan oleh sampah.
Menariknya lagi, aplikasi ini juga dirancang untuk mengidentifikasi merek produk yang menghasilkan sampah tersebut.
Mendukung Konsep Ekonomi Sirkular
Kemampuan mengenali merek produk bukan sekadar fitur tambahan. Data tersebut nantinya akan digunakan untuk mengetahui produk apa saja yang paling banyak berkontribusi terhadap timbulan sampah.
Fitur ini berkaitan dengan konsep Extended Producer Responsibility (EPR) dalam ekonomi sirkular.
Konsep tersebut menekankan bahwa produsen tidak hanya bertanggung jawab pada proses produksi dan distribusi barang, tetapi juga terhadap dampak lingkungan setelah produk tersebut dikonsumsi.
Dengan adanya data tersebut, produsen diharapkan bisa lebih bertanggung jawab dalam mengelola limbah yang berasal dari produk mereka.
Dilengkapi Fitur Geotagging
Selain kemampuan identifikasi sampah, aplikasi Westa juga dilengkapi dengan fitur geotagging.
Fitur ini memungkinkan sistem untuk mencatat lokasi ditemukannya sampah tertentu. Dengan begitu, data yang terkumpul tidak hanya mencakup jenis sampah, tetapi juga pola penyebarannya di berbagai wilayah.
Informasi ini sangat penting karena bisa digunakan sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan oleh pemerintah.
Melalui data tersebut, pemerintah dapat merancang strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif sekaligus mengidentifikasi produk yang berkontribusi besar terhadap limbah.
Harapan untuk Masa Depan
Saat ini, pengembangan aplikasi Westa masih difokuskan untuk digunakan oleh organisasi atau institusi tertentu.
Namun ke depannya, Luluk berharap aplikasi ini bisa digunakan oleh masyarakat secara luas.
Dengan menggunakan ponsel pintar, masyarakat nantinya bisa memotret sampah yang mereka hasilkan. Data tersebut kemudian akan diolah oleh sistem untuk membuat profil sampah pribadi.
Melalui dashboard aplikasi, pengguna dapat melihat jenis sampah apa yang paling sering mereka hasilkan setiap hari atau setiap minggu.
Informasi ini diharapkan bisa membantu masyarakat lebih sadar terhadap pola konsumsi mereka. Dengan begitu, praktik overconsumption dapat dikurangi dan produksi sampah bisa ditekan.
Luluk juga berharap Westa dapat berkembang menjadi ekosistem digital pengelolaan sampah yang lebih luas.
Aplikasi ini diharapkan mampu menyediakan data komprehensif mengenai jenis sampah, jumlah limbah, tingkat daur ulang, hingga dampak karbon yang dihasilkan.
Jika berkembang dengan baik, Westa berpotensi menjadi one stop waste circular ecosystem yang dapat dimanfaatkan berbagai pihak untuk mendukung sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di Indonesia.
Sumber: detikEdu